PANGKEP – Kata-kata yang lahir dari kecintaan terhadap bahasa dan budaya daerah kembali mengukir prestasi. Muhammad Naufal, siswa SMP Negeri 1 Bungoro, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), berhasil meraih juara satu lomba menulis cerpen berbahasa Makassar tingkat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Prestasi membanggakan tersebut diraih dalam ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, yang berlangsung pada Sabtu, 31 Oktober 2026, bertempat di Hotel Novotel Makassar, Kota Makassar.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan semakin berkembangnya bahasa-bahasa global, Muhammad Naufal hadir membawa kebanggaan melalui karya sastra berbahasa Makassar. Lewat cerita yang ditulisnya, ia membuktikan bahwa bahasa daerah bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kekayaan budaya yang tetap hidup, tumbuh, dan mampu melahirkan prestasi di tangan generasi muda.

Keberhasilan Naufal meraih posisi tertinggi dalam kompetisi tersebut menjadi bukti bahwa kecintaan terhadap bahasa ibu dapat tumbuh menjadi kekuatan kreativitas. Cerpen bukan hanya rangkaian kata, tetapi juga ruang untuk menyampaikan gagasan, merawat tradisi, dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur.

Festival Tunas Bahasa Ibu menjadi panggung bagi para pelajar untuk menunjukkan kemampuan sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa daerah. Melalui kegiatan ini, generasi muda diberi kesempatan untuk mengenal, menggunakan, dan mengembangkan bahasa ibu sebagai bagian penting dari identitas budaya bangsa.

Bagi Kabupaten Pangkep, prestasi Muhammad Naufal menjadi kabar menggembirakan sekaligus kebanggaan tersendiri. Nama SMP Negeri 1 Bungoro turut terangkat melalui keberhasilan siswanya menorehkan prestasi di tingkat regional Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Kemenangan ini bukan sekadar tentang sebuah piala, tetapi tentang bagaimana seorang pelajar mampu menjaga nyala bahasa ibunya melalui karya. Sebuah cerita yang ditulis dengan bahasa Makassar menjadi bukti bahwa tradisi tidak harus berhenti pada kenangan, melainkan dapat terus hidup melalui kreativitas generasi penerus.

Muhammad Naufal telah menunjukkan bahwa bahasa daerah memiliki tempat terhormat di dunia pendidikan dan sastra. Dari ruang belajar SMP Negeri 1 Bungoro hingga panggung festival di Makassar, langkahnya menjadi inspirasi bahwa mencintai budaya sendiri adalah bagian dari perjalanan meraih masa depan.

Prestasi ini diharapkan menjadi penyemangat bagi pelajar lainnya untuk terus berkarya, menggali potensi diri, dan menjaga bahasa ibu agar tidak kehilangan tempat di tengah perubahan zaman.

Sebab, ketika bahasa ibu tetap ditulis, dituturkan, dan diwariskan, maka di sanalah identitas sebuah bangsa terus menemukan kehidupannya.

Selamat kepada Muhammad Naufal. Juara satu yang diraih bukan hanya membawa kebanggaan bagi sekolah dan Kabupaten Pangkep, tetapi juga menjadi jejak indah bagi pelestarian bahasa Makassar. (Red)