LUWU TIMUR- Di balik pesona indah Danau Matano yang terkenal hingga mancanegara, masih tersimpan kisah perjuangan hidup masyarakat kecil yang tinggal di kawasan perkebunan dan pemukiman liar di sepanjang tepian danau. Di tengah keterbatasan ekonomi, puluhan janda dan keluarga fakir miskin kini kembali merasakan kepedulian melalui program sosial “Jumat Berkah” yang digagas Yayasan An-Amta Luwu Timur.

Program penyaluran bantuan sembako tersebut rutin dilaksanakan setiap awal bulan pada hari Jumat sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat dhuafa yang membutuhkan bantuan pangan.

Kepala Bidang Sosial dan Pemberdayaan Umat Yayasan An-Amta, Sofyan Badaruddin, S.Sos., mengatakan bahwa program tersebut lahir dari hasil observasi langsung tim yayasan terhadap kondisi masyarakat di lapangan.

“Program Jumat Berkah ini merupakan respon dari hasil pengamatan kami terhadap kondisi masyarakat dhuafa yang sangat membutuhkan bantuan beras dan kebutuhan pokok setiap bulannya. Penyaluran zakat fitrah hanya setahun sekali, sementara kebutuhan hidup tidak bisa menunggu,” ujar Sofyan saat ditemui di sela kegiatan penyaluran bantuan.

Dalam pelaksanaannya, Yayasan An-Amta turut menggandeng sejumlah perusahaan swasta dan para dermawan yang memiliki kepedulian sosial tinggi terhadap masyarakat kurang mampu.

Pada penyaluran kali ini, bantuan diberikan kepada 45 janda dan fakir miskin yang tersebar di Kecamatan Towuti dan Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur.

Tim relawan yayasan bahkan turun langsung menyisir kawasan pemukiman di pinggiran Danau Matano untuk memastikan bantuan diterima oleh warga yang benar-benar membutuhkan. Penyaluran dilakukan secara door to door dengan mendatangi langsung rumah penerima manfaat.

Tidak hanya menyerahkan paket sembako, para relawan juga memanfaatkan momen tersebut untuk mempererat silaturahmi serta meminta doa dari para penerima manfaat bagi keselamatan dan keberkahan rezeki para donatur.

Suasana haru pun mewarnai kegiatan sosial tersebut. Salah seorang penerima bantuan, seorang janda yang sehari-hari bekerja membersihkan masjid dan tempat wudhu demi menghidupi dua anaknya, tak mampu menahan air mata saat menerima bantuan sembako.

“Alhamdulillah saya bisa bayar kontrakan dari upah membersihkan masjid. Tapi untuk biaya sekolah anak dan kebutuhan makan sehari-hari kami sering kekurangan. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada para dermawan yang sudah membantu kami,” tuturnya dengan suara bergetar.

Selain fokus pada bantuan pangan, Yayasan An-Amta juga aktif menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat lainnya. Saat ini yayasan tersebut tengah mengembangkan program Rumah Qur’an bagi kalangan orang tua dan para mualaf sebagai bentuk pembinaan spiritual masyarakat.

Kegiatan sosial di tepian Danau Matano ini menjadi bukti bahwa kepedulian dan semangat berbagi masih tumbuh kuat di tengah masyarakat. Di balik keterbatasan hidup, hadirnya uluran tangan para dermawan mampu menjadi harapan baru bagi mereka yang membutuhkan.

Laporan: Syaifullah Mujahidin