PANGKEP — Dari dapur yang sederhana, sebuah cita-cita besar tentang kemandirian ekonomi mulai diracik. Bukan sekadar tentang makanan, tetapi tentang keterampilan, keberanian, dan harapan untuk membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.
Semangat tersebut terasa dalam Pembukaan Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) Tata Boga Mattiro Deceng yang digelar di Lembang Baroangin, Kelurahan Mangallekana, Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep, Rabu, 20 Mei 2026.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Mattiro Deceng tersebut diikuti sebanyak 21 peserta. Mereka mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan tata boga sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan sebagai bekal menghadapi tantangan ekonomi dan dunia kerja.
Kepala Lembaga Mattiro Deceng, Rakib Dg Gama, menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program tersebut. Pendidikan kecakapan wirausaha di bidang tata boga diharapkan tidak berhenti pada kemampuan mengolah bahan makanan menjadi hidangan, tetapi berkembang menjadi keterampilan produktif yang dapat menciptakan nilai ekonomi.
Tata boga memiliki ruang yang luas dalam dunia kewirausahaan. Dari makanan rumahan, kue tradisional, jajanan pasar, hingga produk kuliner inovatif, semuanya dapat menjadi peluang usaha apabila dikelola dengan kreativitas, kualitas, kebersihan, dan strategi pemasaran yang tepat.
Karena itu, pendidikan keterampilan seperti ini memiliki arti penting dalam pemberdayaan masyarakat. Peserta tidak hanya belajar “bagaimana memasak”, tetapi juga diarahkan untuk memahami bahwa sebuah produk kuliner membutuhkan proses panjang—mulai dari pemilihan bahan baku, teknik pengolahan, sanitasi, pengemasan, penghitungan biaya produksi, penentuan harga, hingga pemasaran.
Di era ekonomi kreatif dan pemasaran digital, kemampuan tersebut menjadi modal penting. Produk yang lahir dari dapur masyarakat bahkan dapat menjangkau pasar yang lebih luas melalui media sosial dan berbagai platform digital.
Bagi masyarakat Labakkang, program ini menjadi salah satu bentuk investasi sumber daya manusia. Sebab, ketika keterampilan bertemu dengan kemauan untuk berusaha, maka peluang ekonomi dapat tumbuh dari lingkungan sendiri.
21 peserta adalah 21 cerita tentang harapan.
Ada yang mungkin datang dengan pengalaman memasak di rumah. Ada yang membawa keinginan untuk memiliki usaha sendiri. Ada pula yang mungkin melihat pendidikan ini sebagai pintu pertama untuk meningkatkan pendapatan keluarga.
Namun semuanya bertemu dalam satu tujuan: belajar agar mampu berdiri lebih mandiri.
Pendidikan Kecakapan Wirausaha Tata Boga Mattiro Deceng pun menjadi lebih dari sekadar kegiatan pelatihan. Ia merupakan upaya menanamkan keberanian untuk memulai, membangun kepercayaan diri, serta mengubah keterampilan menjadi peluang ekonomi.
Sebab kewirausahaan tidak selalu lahir dari modal yang besar.
Kadang ia tumbuh dari dapur kecil, resep sederhana, tangan yang terampil, dan keberanian untuk mencoba.
Dari Lembang Baroangin, Kelurahan Mangallekana, Kecamatan Labakkang, 21 peserta itu memulai sebuah perjalanan baru.
Perjalanan untuk mengubah keterampilan menjadi karya, karya menjadi produk, dan produk menjadi peluang.
Dari dapur, lahir cita-cita.
Dari keterampilan, tumbuh kemandirian.
Dan dari keberanian untuk memulai, masa depan ekonomi keluarga dapat dirajut sedikit demi sedikit. (Hadana.S.Pd)

Tinggalkan Balasan