SAILUS BESAR — Ada yang berbeda pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Sailus Besar, 17 Agustus 2026. Di tengah khidmatnya upacara, sebuah persembahan sederhana dari siswa UPT SDN 6 Sailus Besar justru mampu menggugah perasaan dan menghadirkan air mata haru di mata para penonton.
Bukan sekadar pertunjukan. Bukan pula hanya rangkaian gerak dan kata-kata.
Penampilan anak-anak itu seakan membawa kembali serpihan kisah perjuangan ke tengah masyarakat. Tentang masa ketika kemerdekaan belum menjadi kenyataan, tentang pengorbanan para pejuang, dan tentang air mata yang pernah jatuh demi sebuah kata yang hari ini begitu mudah kita ucapkan: merdeka.

Satu demi satu adegan ditampilkan. Wajah-wajah polos para siswa berubah menjadi gambaran kecil tentang perjuangan masa lalu. Suara, gerak, dan ekspresi mereka menyatu dalam sebuah persembahan yang perlahan mengubah suasana.
Riuh penonton seakan mereda.
Yang tersisa adalah keheningan dan mata yang mulai berkaca-kaca.
Beberapa penonton bahkan tak kuasa membendung air mata. Bukan karena kesedihan semata, tetapi karena pertunjukan itu membangkitkan ingatan tentang betapa panjang dan beratnya jalan yang pernah ditempuh bangsa ini untuk merebut kemerdekaan.
Seorang tokoh masyarakat yang menyaksikan penampilan tersebut mengaku tersentuh.
Menurutnya, kegiatan seperti itu menjadi salah satu pertunjukan yang mampu menyentuh hati masyarakat, bahkan membuat sejumlah ibu meneteskan air mata karena teringat kisah dan masa-masa penjajahan yang pernah dialami bangsa Indonesia.
“Ini salah satu kegiatan yang mampu membuat para ibu meneteskan air mata. Kita seperti diingatkan kembali pada masa-masa penjajahan dan perjuangan para pahlawan. Pertunjukan seperti inilah yang seharusnya terus dilakukan setiap tahun dalam perayaan HUT RI,” ungkapnya.
Ungkapan itu menjadi gambaran bahwa kemerdekaan tidak cukup hanya diperingati dengan upacara dan perlombaan. Kemerdekaan juga perlu dihidupkan dalam ingatan, dirasakan dalam hati, dan diwariskan kepada generasi muda.
Di Sailus Besar, anak-anak SDN 6 seolah menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Mereka menghidupkan kembali cerita perjuangan melalui bahasa yang paling sederhana—sebuah pertunjukan yang lahir dari keberanian dan ketulusan.
Kepala UPT SDN 6 Sailus Besar, Hasnah Hataming, S.Pd., SD, menyampaikan rasa syukur atas respons masyarakat terhadap persembahan para siswanya.
“Alhamdulillah, kegiatan siswa kami pada peringatan HUT RI ke-81 mendapat respons yang sangat baik dari masyarakat. Bahkan ada penonton yang sampai meneteskan air mata. Ini menjadi kebanggaan sekaligus pengalaman yang sangat berarti bagi anak-anak kami,” ungkap Hasniah.
Bagi Hasniah, pendidikan tidak selalu berlangsung di balik dinding kelas. Ada pelajaran yang justru tumbuh ketika anak-anak berdiri di hadapan masyarakat, belajar berani, bekerja sama, bertanggung jawab, sekaligus memahami arti cinta tanah air.
Sebab pendidikan sejatinya bukan hanya tentang seberapa banyak pelajaran yang mampu dihafal, tetapi juga tentang seberapa dalam nilai kehidupan mampu menyentuh hati.
Dan pagi itu, Sailus Besar menyaksikan sebuah persembahan yang sederhana namun bermakna.
Anak-anak tampil membawa cerita perjuangan. Masyarakat menyaksikan dengan hati. Air mata pun jatuh menjadi saksi.
Di tanah Sailus Besar, kemerdekaan bukan hanya dikibarkan melalui Sang Merah Putih. Ia juga hidup melalui mata-mata kecil yang penuh harapan, yang hari ini belajar mengenang perjuangan dan esok akan melanjutkan cita-cita para pahlawan.
Karena selama cerita perjuangan masih mampu membuat air mata jatuh, selama itu pula semangat kemerdekaan akan tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. (Penulis Hasnah Hataming,S.Pd,SD)

Tinggalkan Balasan