Role Model Guru di Era Digital
PANGKEP CERDAS-Dunia sekarang berada diera revolusi industri 4.0, bahkan sudah mulai memasuki era 5.0 yang ditandai oleh massifikasi internet of thing (IoT), artificial intelligence (AI), 3D printing, big data, algoritma, dan aspek lain telah menciptakan ruang kehidupan manusia terkoneksi secara virtual.
Manusia hidup dalam dunia dan budaya digital yang serba mudah, cepat, dan luas yang mem- pengaruhi alam pikiran dan orientasi tindakan yang menjadikan dirinya seperti insan modular.
Perkembangan teknologi yang cukup pesat juga sangat mempengaruhi dunia Pendidikan. Pendidikan menghadapi tantangan baru, dunia digital yang sarat isi dan kecenderungan dimana setiap orang berelasi sosial serba cepat, mudah, dan terbuka. Mereka juga dapat belajar apa saja, termasuk ilmu pengetahuan tanpa guru, segalanya bisa didapatkan melalui teknologi digital. Menyampaikan dan mendapatkan infor- masi apa saja dengan mudah dan leluasa melalui aplikasi digital.
Kehadiran teknologi telah mengubah pola perilaku warga dunia. Sementara yang tidak memiliki skill abad ke-21 (berpikir kritis, kreatif, kolaboratif dan komunikatif) sepertinya akan tersisih. Banyak peran manusia yang kini telah diambil alih oleh benda-benda pintar yang super canggih itu.
Sehingga guru sebagai elemen penting dalam pendidikan harus mampu beradaptasi sekaligus meningkatkan kompetensinya sesuai dengan perkembangan teknologi, harus berubah mengikuti perkembangan zaman atau punah karena ketinggalan zaman. Ja ngan sampai cara konvensional selama ini yang digunakan tidak lagi relevan dan sejalan dengan kebutuhan ma- syarakat modern. Guru-guru Indone sia harus menyadari bahwa perubah- an adalah sebuah keniscayaan yang ti dak bisa dihindari dan pasti terjadi da- lam kehidupan, bahkan ada istilah ti- dak ada yang abadi kecuali perubah- an itu sendiri.
Guru-guru Indonesia harus menangkap perkembangan teknologi sebagai sebuah kemudahan dalam menjalankan tugasnya dan mengambil langkah- langkah untuk memanfaatkan peluang ini, seperti pengembangan bahan ajar berbasis digital, multikultural, dan ekologi, merancang pembel ajaran yang menarik, pemberian tugas yang lebih fleksibel, interaksi guru dan siswa bisa dilakukan kapan saja, membiasakan siswa dengan dunia digital sebagai tuntutan zaman, dan seabreg kegunaan lainnya. Bahkan ada cerita orang tua peserta didik yang mempertanyakan fungsi guru lagi dimana, karena hampir semua tugas tugas anaknya mendapatkan solusinya melalui teknologi.
Guru sebagai Role Model Di samping berbagaikegunaan yang bisa dimanfaatkan guru dengan sendiri logi digital yang kita rasakan saat ini, tapi juga menyimpan banyak tantang an dan kekurangan, terjadi kesenjang an disana sini begitupun terjadi krisis moral. Bahwa kecerdasan buatan atau benda-benda pintar itu tidak memiliki perasaan dan hati nurani sehingga t dak mampu membentukmuaddib atau karakter peserta didik, bahkan bisa se- baliknya kalau tidak berhati-hati dan bijak dapat menjerumuskan peserta didik pada nilai-nilai yang menyimpang dan menyesatkan. Disinilah penting nya peran para guru Indonesia meng ambil peran ini yang tidak bisa dikerja oleh teknologi. Teknologi tidak bisa menjadi sosok teladan yang menanamkan nilai-nilai karakter dan akhlak, tidak mampu memenuhi kebutuhan perasaan, tidak dapat memberi apresiasi, menunjukkan simpati dan empati,
memotivasi dan menginspirasi, disinilah peran guru yang tak tergantikan yang memiliki kelebihan dalam memberi umpan balik secara tepat, nyaman dan mampu menarik minat peserta didik ketika proses pembelajaran.
Padahal arah dan tujuan pendidikan Indonesia adalah terjadinya integrasi antara pencapaian ilmu dan iman antara iman dan kemajuan, seimbangnya antara akal dan qalbu, yang menghasilkan generasi emas 2045 yang kita cita-citakan bersama, generasi terpelajar yang kokoh iman dan kepribadiannya. Secanggih apapun teknologi, secerdas apapun peserta didik dari segi knowledge dan skill mereka tidak boleh kehilangan atau tercerabut dari nilai-nilai spiritualitas. Karenanya perlu menjadi renungan bagi para guru Indonesia bahwa hasil penelitian menyebutkan bahwa kesuksesan seseorang hanya 20% ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard) skill) selebihnya 80% ditentukan oleh kemampuan mengelola diri (soft skill) seperti berpikir kritis, komunikasiyang baik, kerjasama, kepemimpinan, kreatif, dan inovatif.
Sehingga pendidikan karakter di sekolah melalui kegiatan proses belajar mengajar dan kegiatan ekstrakurikuler adalah instrumen penting untuk mencapai kesimbangan tujuan pendidikan Indonesia. Pendidikan muaddib atau karakter menjadi keniscayaan dan harus diupayakan sejak dini melalui proses pembiasaan dan keteladanan, tanpa harus melupakan dan mengikuti perkembangan zaman yang terus bergerak cepat. Sungguh berat tugas dan tanggungjawab para guru untuk membawa misi pendidikan Indonesia kepada arah yang dicita-citakan, tidak berlebihan kalau para guru disebut sebagai alwarisatul anbiya, pengganti para nabi untuk melanjutkan tugas-tugas kerisalahan.
Untuk sahabatku para guru di seluruh penjuru nusantara, selamat hari guru nasional ke-80 tahun 25 November 2025, tetap semangat dan bahagia selalu, yakinkanlah bahwa dengan kekuatan ruh ikhlas, tawadhu dan rasa tanggungjawab yang luhur insya Allah menjadi kenikmatan tersendiri bekerja mencerdaskan anak bangsa dan berprofesi sebagai guru. Wallahu ahlam. (*)
Irwan Mustafa
Kepala Sekolah
SMA Muhammadiyah Pangkep

Tinggalkan Balasan